DASAR PERBANDINGAN ANTARA DUA BAHASA YAITU BAHASA BIMA DENGAN BAHASA KOMODO

This item was filled under [ ARTIKEL ]
  1. 1.     Latar Belakang

Lingustik bandingan mengandalkan sebuah metode klasifikasi tertentu sebagai tumpuan geraknya. Perbandingan antara bahasa dapat member landasan dasar bagi pemahaman antar bangsa. Bila kita berasumsi bahwa bahasa yang dipakai sekarang ini merupakan hasil perkembangan yang berkesinambungan dari bahasa-bahasa yang lebih tua yang sekarang sudah tidak ada lagi, maka bentuk-bentuk kata dan bentuk gramatikal yang kita miliki dewasa ini harus merupakan unsure warisan masa lampau. Unsur-unsur itu harus digali kembali dan dibawa kepermukaan agar kita semua menjadi lebih sadar akan pertalian antara satu sama lain (Sudjalil, M.Si).

Lingustik bandingan merupakan suatu ilmu bahasa yang mengkaji mengenai perbandingan antara bahasa-bahasa yang diharapkan memiliki atau terdapat kesamaan arti bahkan kesamaan bentuk katanya atau seperti yang kita ketahui linguistik bandingan merupakan ilmu yang mengkaji adanya kekerabatan antara dua bahasa atau lebih. Aspek bahasa yang paling cocok untuk dijadikan bahan studi perbandingan adalah bentuk. Dalam kenyataan, struktur formal bahasa-bahasa tidak banyak menimbulkan masalah dalam perbandingan dengan struktur makna. Kaidah-kaidah mengenai kekerabatan antar bahasa dapat dirumuskan secara meyakinkan dengan mempergunakan kesamaan-kesamaan bentuk yang telah diselidiki dan dipelajari secara sistematik.

Dasar perbandingan bahasa atau mencari kekerabatan antara bahasa Bima dan bahasa Komodo merupakan dasar dimana kita bisa mengetahui adanya hubungan atau kesamaan arti, bentuk, dan pengucapan antara dua bahasa tersebut.  Seperti halnya dengan perbandingan tipologis, linguistic bandingan juga melandaskan metodenya pada kesamaan bentuk tetapi kesaan bentuk dalam perkembangan sejarah yang sama (keraf, 1984).

 

  1. 2.     Definisi
  2. 3.     Teori yang Digunakan

Dalam menganalisis antara perbandingan bahasa ini menggunakan teori konrtol sosial oleh Grace Andrus de Laguna dalam bukunya yang ditulis oleh Gorys Keraf 1984, mengemukakan bahwa yang besar yang memungkinkan manusi bekerja sama. Bahasa merupakan upaya yang mengkoordinasi dan menghubungkan macam-macam kegiatan manusia untuk mencapai tujuan bersama. Bahkan teriakan hewan (cry) dan panggilan (call) merupakan fungsi sosial. Panggilan, yang menandakan bahasa dari seekor induk ayam ketika seekor elang melintas diatasnya, membangkitkan respon tertentu pada anak-anak ayam untuk mencari tempat persembunyian. kontrol sosial yang berujud teriakan binatang dihubungkan dengan tingkah laku yang sederhana dan kemampuan yang masih rendah dari species yang bersangkutan.

Kompleksitas hidup yang semakin bertambah, disertai perubahan-perubahan pada habitat itu sendiri dan jangkauan kegiatan yang selalu meluas secara konstan, semuanya menciptakan kebutuhan akan kerja sama yang lebih kompak, baik untuk mengadakan pertahanan bersama, maupun mengadakan serangan-serangan bersama. Keamanan kelompok semakin tergantung  dari solidaritas kelompok. Perubahan dalam kondisi sosial ini memerlukan pula pengenbangan suatu alat control alat sosial yang ampuh.

Jadi dalam usahanya menelusuri evolusi dari ujaran dari teriakan ke pengguna sebagai ujaran. De Laguna melihat jauh kebelakang bila dibandingkan dengan Jespersen. Tambahan lagi walaupun memasukan teori permainan kedalam deskripsinya sendiri de Laguna menganggap bahwa ujaran didasarkan atas aktivitas kehidupan yang sungguh-sungguh bukan sekedar permainan yang menyenangkan (Keraf, 1984).

 

 

  1. 4.     Data/pembahasan

Aspek bahasa yang paling cocok untuk dijadikan bahan studi perbandingan adalah bentuk. Dalam kenyataan, struktur formal bahasa-bahasa tidak banyak menimbulkan masalah dalam perbandingan dengan struktur makna. Kaidah-kaidah mengenai kekerabatan antar bahasa dapat dirumuskan secara meyakinkan dengan mempergunakan kesamaan-kesamaan bentuk yang telah diselidiki dan dipelajari secara sistematik.

Dengan demikian bahasa manapun di bumi ini secara teoritis dapat menjadi objek bandingan. Tiap bahasa memiliki cirri-ciri kesemestaan (universal) tertentu. Kesemestaan bahasa itu mencakup:

  1. Kesaman dalam bentuk dan makna. Tiap bahasa memiliki bentuk-bentuk tertentu yang dikaitkan dengan maknanya yang khas untuk memudahkan referensi.
  2. Tiap bahasa memiliki perangkat unit fungsiional yang terkecil yaitu fonem dan morfem. Walaupun jumlah fonem itu kecil dan berbeda dari bahasa ke bahasa, terdapat kenyataan yang menarik bahwa tiap bahasa memiliki perangkat yang terkecil ini untuk membedakan makna kata, dan bahwa gabungan dari bunyi-bunyi yang sangat terbatas ini mampu menghasilkan perlambang (kata) yang tak terbatas jumlahnya.

Lingustik bandingan historis hanya mempergunakan kesamaan bentuk dan makna sebagai pantulan dari sejarah warisan yang sama. Karena metode untuk mengadakan klasifikasi itu bermacam-macam tergantung dari cirri yang akan digunakan (klasifikasi tipologis, klasifikasi genealogis, klasifikasi areal, atau klasifikasi sosiologis). Maka hasilnyapun bisa bermacam-macam. Bahasa-bahasa kerabat bahasa yang berasal dari proto yang sama selalu akan memperlihatkan kesamaan-kesaan berikut:

(1). Kesamaan system bunyi (foretik) dan susunan bunyi (fonologis).

(2). Kesamaan morfologis, yaitu kesamaan dalam bentuk bentuk kata dan kesamaan dalam bentuk gramatikal.

(3). Kesamaan sintaksis, yaitu kesamaan relasi antara kata-kata dalam sebuah kalimat.

Kesamaan bentuk dalam bandingan tipologis linguitik, Linguitik Bandingan Historis juga melandaskan metodenya pada kesamaan bentuk, tetapi kesamaan bentuk dalam perkembangan sejarah yang sama. Cabang ilmu bahasa ini secara luas dikenal di Eropa dalam abad XIX, sebagai disebabkan oleh penemuan bahasa Sanskerta, yang telah menimbulkan pula banyak spekulasi di antara para ahli. Bentuk-bentuk kata yang sama antara berbagai bahasa dengan makna yang sama, diperkuat lagi dengan persamaan-persamaan unsur kata bahasa.

Untuk mengadakan perbandingan yang sistematis, diperlukan metode-metode tertentu. Apa yang dinamakan metode perbandingan adalah suatu alat untuk menyusun perangkat cirri-ciri yang berkorespondesi dari unsure-unsur yang diperbandingkan dalam macam-macam bahasa. Rangkaian bentuk makna kata-kata bahasa Bima dan bahasa Komodo.

 

  1. 5.     Analisis Perbandingan Kekerabatan Bahasa Bima dengan Bahasa Komodo.

 

NO GLOSS BAHASA BIMA BAHASA KOMODO KATA KERABAT
1 garuk kao, garo hao +
2 potong dompo, fati kêteq, wenco
3 kayu haju haju +
4 belah bi’a, tela, wika nggola, rata, tia -
5 tajam ngaha, geri nahang +
6 tumpul dudu dudu +
7 kerja karawi kêrawi +
8 tanam nguda, mura paseq -
9 pilih kadele, pili pili +
10 tumbuh mori, kambonci pusi, wuntu -
11 bengkak winte ba -
12 peras ua, pici, pe’e ??? x
13 pegang nenti, dama seng, tenteng
14 gali ngari, caki kereq
15 beli weli weli +
16 buka hengga, bungka lengka -
17 tumbuk mbaju, tutu tutuq, waju +
18 lempar bale, leo, paki, toba bale +
19 jatuh mabu munu, boh +
20 anjing lako bungga -
21 burung nasi kaka -
22 telur dolu telo +
23 bulu wuru, kere wunu +
24 sayap kalete kêlêbe -
25 terbang ngemo lela’ -
26 tikus karawo bêlawo, bêco +
27 daging hi’i isi +
28 lemak, minyak apa, mina apa, mina +
29 ekor keto iko -
30 ular sawa mbêlae, ulah -
31 cacing koli kuli +
32 kutu hudu hutu +
33 nyamuk karokukatongga kelumus -
34 laba-laba sangganggau ? x
35 ikan uta ihang -
36 busuk mburu, wou wou, wueh +
37 dahan sanga dangka -
38 daun ro’o ngolo -
39 akar amu wake -
40 bunga bunga, wunta wela, bunga +?
41 buah wua wua +
42 rumput mpori satah -
43 tanah dana tana +
44 batu wadu watu +
45 pasir sarae kelaing -
46 air oi banu -
47 alir rai, tangiru, wa’a mbang -
48 laut moti taseq -
49 garam sia garang, sia +
50 danau dano - -
51 rimba wuba puah -
52 langit langi awang -
53 bulan wura wulang +
54 bintang ntara ntala +
55 awan riru tai anging -
56 kabut apu kewung -
57 hujan ura urang +
58 guntur kareciai, eliai gunggu -
59 kilat kakila kila +
60 angina angi anging +
61 tiup ufi, ufe, ewu puh -
62 panas pana panah +
63 dingin busi, kangali ngente’, neos -
64 kering mango mara -
65 basah mbeca basa +
66 berat tani, kampi’i mêdeh -
67 api afi api +
68 bakar ka’a, curu tunu -
69 asap obu nuh -
70 abu rawu, kalubu kerawo +
71 hitam me’e mureng -
72 putih bura, lanta popo -
73 merah kala rara -
74 kuning monca, huni monca +
75 hijau jao, moro jao +
76 kecil to’i, loko, sakedi kia, kideq +
77 besar na’e kodang -
78 pendek poro, pada panda +
79 panjang naru, dondo lewah -
80 tipis nipi nipih, nipis +
81 tebal tebe gumpu; -
82 sempit tuka, seke seke +
83 lebar  paja paja +
84 sakit supu, pili beti, supu +
85 malu maja maja +
86 tua dua, ntubu tua, ndede +
87 baru bou wou +
88 baik taho reheng -
89 jahat dabae, datupa dabae, debae +?
90 benar poda, ncihi tême -
91 malam nadi wiang, wawiang -
92 hari ailiro, ainai ro +
93 tahun mba’ana ntaung -
94 kapan buneai ai ba? -
95 sembunyi cili, ngepa ?? x
96 naik ne’e teka, wuraq, ne +
97 di di, aka, ta asa, se- -
98 di dalam (ta) dei lale -
99 di atas (ta) ese rete -
100 di bawah (ta) awa wawa +
101 ini ake ede -
102 itu ede, aka hine -
103 dekat deni dini, dining +
104 jauh do’o diu -
105 dimana (ta) be bai +
106 saya nahu, ndaiku, ahu +
107 egkau nggomi, ndaimu hou
108 dia sia, ndaina hia +
109 kita ndaita hite
110 kami nami hami +
111 kamu semua nggomidoho, itadoho meu, miu, hou, mu -
112 mereka siadoho, ndaidohna sire, se -
113 apa au apa -
114 siapa cou cei -
115 lain laina bana, kini -
116 semua sara’a, cuku, muci, kali, -
117 dan labo, lao ji, nani, wajo -
118 kalau nggara bo -
119 bagaimana bune mi, hang, imba, b -
120 tidak (w)ati wita +
121 hitung bila, reke rekeng +?
122 satu ica sa +
123 dua ica sa +
124 tiga tolu telu +

Hasil:

+          54 dari 124 gloss      (Perangkat kata kerabat)

+?        4 dari 124 gloss (Unsur serapan)

-               56 dari 124 gloss    (tidak berkerabat )

Persentase kekerabatan Bima-Komodo                       : 54  X 100% = 0,54 %

100

 

 

Daftar Pustaka

Hendri R.H, 2009. Bandingan Bahasa. http://anaksastra.blogspot.com/2009/08/mazhab-linguistik-teori-aliran.html

 

Keraf Gorys, 1984. Lingustik bandingan historis. Pt: Gramedia IKAPI, Jakarta

 

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Comment